Minggu, 08 Mei 2011

Produksi Manggis Anjlok

Cuaca Ekstrem benar-benar memukul sektor pertanian dan perkebunan di Tanah Air. Misalnya para petani manggis di Leuwiliang Bogor merasa was-was produksi manggisnya tahun ini akan kembali jeblok.

Ketua Asosiasi Petani Manggis Kabupaten Bogor Nanang Koswara mengatakan saat ini perkebunan manggis yang dimiliki anggotanya sebagian baru berbunga. Namun karena curah hujan yang tinggi, produksi manggis diperkirakan akan melorot.

"Sekarang ini nggak sampai total produksi 10%, bunga kurang, pohon keluar pucuk, karena musim hujan," katanya, Minggu (8/5/2011)

Ia menjelaskan dalam keadaan normal seharusnya bunga pohon manggis serempak sudah mulai terlihat pada bulan Mei ini. Sehingga jika musim panas datang, maka musim panen manggis akan terjadi pada bulan September-Oktober 2011.

"Bulan ini belum ada (produksi), baru keluar bunga, kalau sekarang bunga, September-Oktober panen, tapi kadang-kadang Agustus bisa ada yang mulai panen," katanya.

Nanang mengatakan luasan areal perkebunan manggis di Kabupaten Bogor mencapai 1.200 hektar atau setara 120.000 pohon manggis yang tersebar diberbagai kecamatan. Rata-rata setiap pohon sekali panen memproduksi 20-30 Kg, namun ada beberapa pohon yang sudah tua bisa mencapai 200 Kg sekali musim.

"Sekarang semakin tak menentu iklim, bukan hanya manggis, kalau rontok bunganya maka buahnya sedikit," katanya.

Tak menentunya produksi manggis, membuat kunjungan badan keamanan pangan Australia bersama Dirjen Hortikultura untuk mengecek produksi manggis Bogor menjadi batal. Ia memperkirakan produksi manggis tahun ini sulit diprediksi karena masih tingginya curah hujan, padahal pangsa pasar ekspor seperti China dan Timur Tengah tengah menanti.

"Kondisi ini mulai tahun 2010, tahun 2009 panen raya. Kemarin banyak dari kita yang bertani sayuran lainnya, diantaranya menanam cabe rawit," katanya.

Menurutnya jumlah petani manggis di Kabupaten Bogot mencapai 88 orang yang terbagi menjadi 8 kelompok tani. Ia mencontohkan produksi satu kelompok tani manggis bisa mencapai 136 ton itu terjadi pada saat panen raya tahun 2009.

"Harga jual dipetani harganya untuk manggis curah rata-rata Rp 3.200-5.000 per Kg, ditingkat eksportir untuk kelas III Rp 4.000, kelas II Rp 6.000-8.000 per Kg dan kelas I Rp 10.000-14.000 per Kg, di konsumen Rp 20.000 per Kg," katanya.

Selain Bogor, produksi manggis nasional selama ini ditopang dari Sumatera seperti wilayah Lampung, Jambi dan lain-lain. Produksi manggis 2006 mencapai 72.634 ton kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2007 sebesar 112.722 ton. Kemudian pada 2008 produksi manggis hanya 65.133 ton dan naik kembali menjadi sebanyak 105.558 ton di 2009 dan anjlok kembali di tahun 2010.





Sumber ; Detik

0 komentar:

Poskan Komentar